Kamis, 08 April 2010

DATA PERKEBUNAN TEBU DI INDONESIA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 1994–1995 gula merupakan penghasil ekspor kedua sesudah gandum. Pada tahun itu lebih dari 3,88 juta ton gula dieskpor, yakni senilai dua miliar dolar. Australia adalah penghasil gula terbesar ketujuh dan pengekspor gula terbesar ketiga di dunia.

Tebu ditanam mulai di daerah-daerah tropis dan subtropis di negara bagian New South Wales bagian utara sampai ke daerah Mossman di negara bagian Queensland, yakni merentang sejauh 2.100 km (Lihat Gambar 1 dan 2 ). Di sini curah hujannya adalah berkisar antara 1.100 dan 5.000 mm dan suhu rata-rata adalah 27° celsius. Pengairan merupakan hal yang penting apabila curah hujannya di bawah 1500 mm, dan lebih dari 25% tanaman yang ada dihasilkan dengan menggunakan pengairan.

Gambar 5.12: Daerah tanaman tebu
Gambar 1:
Daerah tanaman tebu

Daerah pertanian tebu yang khas
CSR - Colonial Sugar Refinery


Gambar 2: Daerah pertanian tebu yang khas

Kira-kira ada 50 jenis tebu yang ditanam di Australia. Ada satu jenis baru yang diubah sifat asal-usulnya sehingga menghasilkan gula yang lebih banyak dan tahan terhadap penyakit dan hama.

Tebu ditanam secara berkelompok setinggi lebih dari 4 meter dengan garis tengah 30–40 mm. Untuk tebu, yang ditanam adalah potongan batangnya, dan penanamannya dilakukan dengan mesin. Mesin tersebut memotong batang tebu menurut ukuran yang tepat untuk ditanam, memasukkannya ke dalam lubang, menutupi lubang itu dengan tanah dan membubuhkan pupuk serta obat pembasmi hama. Mesin tersebut melakukan semua ini dalam sekali jalan.

Hasil panen tebu kira-kira 80 ton setiap hektar. Umur tanaman tebu adalah 12 sampai 16 bulan. Di tempat-tempat yang lebih sejuk, misalnya di New South Wales sebelah utara dan di Queensland sebelah selatan, diperlukan waktu 24 bulan untuk mematangkan umur tebu.

Indonesia adalah negara yang mempunyai areal lahan yang sangat luas sekali, sayangnya kita belum memaksimalkan potensi pertanian dan perkebunan. Sampai sekarang kita masih mengimpor komoditas seperti kedelai dan gula. Untuk prodiksi gula nasional harusnya mendapat perhatian menilik besarnya potensi yang dimiliki bangsa ini untuk mewujudkan swasembada gula.

Tebu sebagai bahan baku pembuat gula masih terbelengkalai dalam pelaksanaanya. Jika melihat trend saat ini yang mengedepankan bio energi seharusnya sudah mulai digalakkan penanaman tebu. Tetes tebu yang merupakan produk dari tebu ini bisa dijadikan sebagai bahan baku biofuel.

Kita bisa menilik apa yang telah dilakukan Pemerintah Jawa Timur dalam menjalankan program ini. Propinsi Jawa Timur termasuk salah satu propinsi di Pulau Jawa yang melaksanakan program akselerasi produktivitas gula nasional yang dicanangkan oleh Departemen Pertanian.

Dengan kegiatan utama pembongkaran eks tanaman tebu ratoon dan pembangunan kebun bibit tebu. Di Jawa Timur. Salah satu dampak dari program ini, banyak dijumpai petani yang melakukan bongkar ratoon tanaman tebu dan diganti dengan bibit tebu yang berkualitas terutama yang dihasilkan oleh P3GI.

Program bongkar ratoon menjadi dambaan petani untuk mengganti varietas tanaman tebunya. Varietas yang sedang dikembangkan di Propinsi Jawa Timur yaitu varietas PS 862, PS 863, PS 861, PB 851, PS 851 dan PB 861, sedangkan varietas yang sudah banyak ditanam oleh petani yaitu varietas Triton, PS 80142, BZ 132, PS 801424

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Tebu.?

2. Bagaimana pertumbuhan dan pemasaran hasil produksi Tebu di Indonesia.?

3. Siapa yang mengelola hasil produksi di Indonesia.?

4. Tahun berapa hasil produksi perkebuna Tebu mengalami kenaikan atau pun penurunan.?

5. Mengapa data analisis dari tahun 1967-2009 sering mengalami penurunan dan peningkatan.?

6. Bagaimana peran pemerintah dalam memajukan dan mengembangkan produksi tebu.?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tebu

Perkebunan-Tebu-300x199Tebu, adalah tanaman berkeping satu (monokotil), termasuk suku rumput-rumputan. Tinggi batangnya 3-5 meter. Batangnya beruas dan berbuku. Daun-daunya duduk pada setiap buku.

Tebu terutama tumbuh di daratan rendah daerah topika dapat tumbuh juga di sebagian derah sub tropika atau daerah-daerah sampai 1400 meter di atas permukuan laut.

Asal tebu diduga dari irian. Kini banyak di usahakan antara lain di Australia, cuba, india, brazillia, philipina, Taiwan dan hawai. Di Indonesia terbanyak di hasilkan di pulau jawa, terutama di jawa timur dan jawa tengah. Sekarang di perluas di luar jawa. Di aceh, lampung, dan Sulawesi selatan telah di buka perkebunan tebu.

Produktivitas tanaman tebu dipengaruhi oleh berbagai faktor tidak hanya tipe lahan (sawah/tegalan) tetapi juga penggunaan sarana produksi dan teknik budidayanya. Pemupukan sebagai salah satu usaha peningkatan kesuburan tanah, pada jumlah dan kombinasi tertentu dapat menaikkan produksi tebu dan gula. Berdasarkan ini,rekomendasi pemberian macam dan jenis pupuk harus didasarkan pada kebutuhan optimum dan terjadinya unsur hara dalam tanah disertai dengan pelaksanaan pemupukan yang efisien yaitu waktu pemberian dan cara pemberian. Kombinasi jenis dan jumlah pupuk yang digunakan berkaitan erat dengan tingkat produktivitas dan rendemen tebu.

Umumnya tebu di tanam dengan stek. Bibit untuk penanaman di peroleh dari kebun bibit. Bibit yang di gunakan ada 3 macam yaitu krecekan, stek pucuk dan rayungan.

1. Bibit kercekan

Bibit krecekan di peroleh dari batang tebu yang terpilih. Masing-masing di potong-potong mempunyai 2-3 mata.

2. Bibit stek pucuk

Stek pucuk di peroleh dengan memotong bagian ujung dari tebu bibit yang sudah berumur 6 atau 7 bulan. Atau dari tanaman tebu yang terpilih dari kebun biasa. Stek pucuk mempunyai 2-4 buah mata di bawah ruas daun yang terbawah.

3. Bibit rayungan

Dalam kebun bibit, tanaman bibit yang tertinggal sesudah diambil stek pucuk, akan bertunas. Tunas yang di peroleh panjang di sebut rayungan. Rayungan ini di potong untuk di jadikan bibit setelah berumur 35-45 hari. Rayungan biasanya memiliki satu tunas.

Persiapan Tanam

Sebelum penanaman tebu, tanah harus di olah dulu. Ada 2 cara pengolahan tanah yaitu cara Reynoso dan cara Bajak.

1. Cara reynoso

Cara reynoso umumnya di lakukan pada lahan swah bekas tanaman padi musim hujan. Masa tanam tebu dengan cara ini, di lakukan pada permulaan musim kemarau. Prinsipnya dengan membuat jaringan got. Gunanya untuk mengatur pemasukan dan pembuangan sisa air sebaik-baiknya. Juga agar bibit yang di tanam mendapat sinar matahari secukupnya.

Dalam got itu tanah tempat penanaman bibit di buat agar gembur yang di sebut kasuran. Tebalnya kira-kira 10 cm gunanya ialah agar akar bibit tebu berkembang. Secara teratur tanah di atas guludan di turunkan tergabtung dengan tinggi tunas tebu.

2. Cara bajak

Cara bajak dilakukan di lahan sawah dan tegal. Masa lahan tanam sawah ialah antara April dan Juni. Masa tanam lahan tegal ialah pada musim hujan ialah bulan oktober dan desember.

2.2 Pertumbuhan dan Pemasaran Tebu

2.2.1 Pertumbuhan

Jenis dan saat tanam tanaman palawija sebagai tanaman sela tidak berpengaruh nyata terhadap indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, tinggi tanaman, dan jumlah anakan per rumpun tebu. Hal ini disebabkan oleh habitus tanaman dan sistem perakaran yang berbeda, tebu lebih tinggi, memiliki sistem perakaran lebih luas sehingga dalam berkompetisi dengan tanaman palawija terhadap kebutuhan cahaya, CO2, air dan unsur hara dimenangkan tebu. Jenis tanaman palawija tidak berpengaruh nyata terhadap berat batang tebu saat tebang. Semua jenis tanaman palawija pada saat tebu berumur 4 ½ bulan telah selesai dipanen, maka pertumbuhan tebu selanjutnya seperti proses pemanjangan dan pembesaran internodia batang.yang berlangsung pada umur 5-6 bulan (Sarjadi, 1970) tidak dipengaruhi tanaman palawija.

Telah disebutkan komponen pertumbuhan tebu sebelum tebu memasuki fase pemanjangan batang tidak dipengaruhi jenis tanaman sela. Dengan demikian pengaruh jenis tanaman sela terhadap berat batang tebu tidak nyata. Saat tanam tanaman palawija 2 minggu sebelum tanam tebu menunjukkan berat batang tebu nyata lebih rendah dibandingkan dengan saat tanam 6 minggu setelah tanam tebu.

Tanaman palawija yang ditanam 2 minggu sebelum tanam tebu dapat memanfaatkan unsur hara mendahului tebu sehingga unsur hara yang tersedia bagi tebu telah berkurang akibatnya berat batang berkurang. Sebaliknya tanaman palawija yang ditanam 6 minggu setelah tanam tebu, pertumbuhannya sangat tertekan oleh naungan tajuk tebu, akibatnya tidak efisien dalam penggunaan pupuk yang diberikan, sehingga sisa pupuk dari tanaman palawija dimanfaatkan tebu, maka berat batang saat tebang meningkat.

Oleh karena itu berat batang pada tanaman sela yang ditanam 2 minggu sebelum tanam tebu lebih rendah daripada yang ditanam 6 minggu setelah tanam tebu. Rerata berat batang tebu saat tebang pada pertanaman tumpangsari (84,08 t/ha) relative lebih tinggi dibandingkan tebu monokultur (77,25 ton/ha).

Hal ini karena intensitas cahaya matahari yang diterima tajuk tanaman sela semakin rendah karena mendapatkan naungan tajuk tebu yang semakin lebat. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa intensitas cahaya matahari yang diteruskan tajuk tebu umur 2 bulan ke tajuk tanaman sela jagung sebesar 87,72 % turun menjadi 71,64 % pada umur 3 bulan, sedang yang ke tajuk tanaman sela kacang tanah dan kedelai sebesar 88,86 % turun menjadi 72,73 % Ini berarti semakin mundur saat tanam tanaman sela intensitas cahaya matahari yang diterima semakin rendah, akibatnya laju fotosintesis rendah dan berat segar masing-masing jenis tanaman sela semakin turun. Saat tanam tanaman sela 2 minggu sebelum tanam tebu menunjukkan berat segar tanaman paling tinggi.

Hal ini karena kebutuhan cahaya, CO2, unsur hara dan air bagi tanaman sela yang ditanam 2 minggu sebelum tanam tebu masih tercukupi karena tebu masih rendah.

2.2.2 Pemasaran

Gula masih merupakan sumber pendapatan utama PTPN XI. Sangat logis bila fluktuasi perolehan gula milik PG (baik yang berasal dari tebu sendiri maupun bagi hasil atas kemitraan dengan tebu rakyat) dan harga berdampak luas terhadap kinerja perusahaan. Keberadaan Indonesia sebagai produsen (untuk gula kistal putih) dan importir (gula rafinasi dan raw sugar) menjadikan perubahan sekecil apa pun pada lingkungan strategik berimbas terhadap terbentuknya harga domestik. Para pedagang menggunakan transaksi di Bursa Berjangka London dan New York sebagai referensi saat melakukan transaksi atas gula milik PTPN XI.

Realisasi penjualan hasil produksi gula milik sendiri, tetes, alkohol, spiritus, karung dan tali/ kain goni, karung plastik serta gula impor tahun 2008 dibandingkan realisasi tahun 2007 dan RKAP 2008 sebagai berikut.

Volume Penjualan Hasil Produksi Tahun 2008

No

Uraian

Satuan

2007

2008

% Capaian

1

Gula

ton

204.338

228.722

138,4

2

Tetes

ton

279.487

363.285

130,0

3

Alkohol

liter

4.119.033

6.055.820

147,0

4

Spiritus

liter

1.746.750

1.600.900

91,7

5

Karung Plastik

lembar

68.731

9.823.962

104,0

6

Karung Goni

lembar

128.082

105.047

152,8

7

Tali dan Kain Goni

kg

128.520

125.596

98,1

8

White Sugar eks Impor

ton

98.520

0

0

9

Eks Raw Sugar

ton

40.225

0138,4

0

Realisasi penjualan gula mencapai 282.722 ton atau 38,4% lebih tinggi dibanding realisasi 2007 sebesar 204.388 ton sebagai upaya mengkompensasi jatuhnya akibat jenuhnya pasar karena ditengarai merembesnya gula rafinasi di pasaran konsumen. Murahnya harga gula dunia mendorong industri makanan dan minuman meningkatkan volume impor gula rafinasi secara langsung ke pasar global. Pasar gula rafinasi produksi dalam negeri berbahan baku raw sugar impor yang tertekan dan jumlahnya impor yang disinyalir lebih banyak dibanding kebutuhan, menyebabkan stagnasi penjualan sesuai segmennya membuat sebagian mengalir ke pasar eceran. Meskipun pada periode triwulan IV/2008 terdapat kecenderungan kenaikan harga gula, tetapi karena kondisi pasar belum cukup kondusif peluang tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Dalam pada itu, penjualan hasil produksi non core business seperti tetes, alkohol, karung plastik, dan tali/kain goni relatif lebih baik dibanding realisasi tahun 2007. Jumlah persediaan akhir gula dan tetes dapat dilihat di tabel.

Realisasi Persediaan dan Penjualan Gula dan Tetes.

No

Uraian

Satuan

2007

2008

% Capaian

1

GULA

Persediaan Awal

Produksi Milik Sendiri

Siap Jual

Penjualan

Persediaan Akhir

ton

16.754

249.584

266.338

204.338

62.000

62.000

231.760

293.760

282.722

11.038

370,1

92,9

110,3

138,4

17,8

2

TETES

Persediaan Awal

Produksi

Siap Jual

Penjualan

Persediaan Akhir

ton

29.497

324.173

353.670

279.487

74.183

74.183

309.245

383.428

366.733

16.694

251,5

95,4

108,4

131,2

22,5

Sebagai akibat terjadinya penurunan produksi, realisasi penjualan gula eks produksi 2008 dan persediaan akhir gula tahun 2008 mengalami penurunan cukup signifikan. Kondisi lainnya adalah harga gula yang kurang kondusif menyusul murahnya harga gula dunia, sebagian gula rafinasi ditengarai masuk ke pasar eceran dan menjadi kompetitor tidak sehat terhadap gula lokal sebagaimana diuraikan di atas. Dalam beberapa kali tender gula milik petani, harga terbentuk berada di bawah harga pokok penyanggaan (floor price) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp. 5.000 per kg.

2.3 Pengelolah Hasil Produksi Perkebunan Karet

Bahan tebu pabrik dan sebagian berasal dari tanaman di lahan milik pabrik dan sebagian dari yang di sewa oleh rakyat. Dengan adanya program Tebu Rakyat Intersifikasi (TRI), areal untuk tebu pabrik yang di sewa semakin berkurang. Pabrik tidak lagi menanam sendiri tetapi di serahkan kepada rakyat, pabrik hanya member bimbingan fasilitas. TRI bertujuan meningkatkan produksi tebu yang di tanam oleh rakyat untuk pabrik.

Pabrik-pabrik gula ada yang milik pemerintah, atau swasta atau koperasi. Rakyat hanya menanam tebu dan program TRI di bombing dalam bentuk koperasi.

Pada aspek off-farm peranan Pabrik Gula selaku unit pengolah tebu menjadi gula Kristal putih sangat menentukan. Dari proses tersebut akan dihasilkan produk berupa gula kristal putih yang dikenal dipasar dengan plantation white sugar atau gula pasir. Disamping hasil ikutan lainnya berupa tetes (molases) yang saat ini masih dimanfaatkan untuk bahan baku pabrik alkohol/spritus dan bumbu masak/MSG disamping hasil ikutan lainnya berupa Particle Board, pakan ternak, kertas dan bahan baku industri lainnya

2.4 Data Analisis

LUAS AREAL DAN PRODUKSI PERKEBUNAN SELURUH INDONESIA MENURUT PENGUSAHAAN

JENIS TANAMAN / Commodity : T E B U / Sugar Cane

TAHUN / Year : 1967-2009

Tahun/

Year

LUAS AREAL /Area

(Ha)

PRODUKSI /Production

(Ton)

P R /

Smallholders

P B N /

Government

P B S /

Private

Jumlah/

Total

P R /

Smallholders

P B N /

Government

P B S /

Private

Jumlah/

Total

1967

1968

1969

1970

1971

1972

1973

1974

1975

1976

1977

1978

1979

1980

1981

1982

1983

1984

1985

1986

1987

1988

1989

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

h b

2006*)

h b

2007**)

2008**)

2009**)

44.088 58.919 766 103.773

43.760 58.550 3.153 105.463

48.826 67.300 6.910 123.036

45.067 69.607 7.041 121.715

48.569 74.811 3.004 126.384

71.667 63.807 13.236 148.710

69.541 85.492 14.476 169.509

71.962 90.102 14.711 176.775

72.964 89.003 17.861 179.828

92.040 95.583 21.279 208.902

118.453 99.644 16.395 234.492

102.213 121.423 24.465 248.101

191.859 126.103 25.534 343.496

259.874 37.629 18.560 316.063

290.470 36.722 18.996 346.188

303.228 43.043 17.049 363.320

315.649 49.152 19.572 384.373

236.810 85.569 19.629 342.008

225.787 95.079 19.363 340.229

238.509 69.168 18.026 325.703

241.169 75.926 17.823 334.918

254.669 92.368 18.492 365.529

249.933 77.378 30.441 357.752

259.877 71.252 32.839 363.968

255.934 96.625 33.745 386.304

262.092 105.905 36.065 404.062

280.504 104.460 40.689 425.653

276.581 107.570 44.585 428.736

263.157 120.162 52.718 436.037

304.047 79.269 63.217 446.533

218.201 85.086 83.591 386.878

195.048 83.069 98.972 377.089

176.733 82.106 83.372 342.211

171.279 64.133 105.248 340.660

178.887 87.687 77.867 344.441

196.509 79.975 74.238 350.722

172.015 87.251 76.459 335.725

184.283 78.205 82.305 344.793

252.427

211.479 80.383 89.924 381.786

40.948 0 0 40.948

262.093

212.787 80.593 90.636 384.016

49.306 0 0 49.306

215.817 80.635 91.673 388.125

219.351 81.025 91.857 392.233

223.105 81.256 91.981 396.342

249.700 578.800 5.400 833.900

202.800 525.600 23.700 752.100

205.500 630.000 72.100 907.600

195.846 602.700 73.900 872.446

218.700 707.586 122.239 1.048.525

213.933 756.195 130.449 1.100.577

203.659 693.089 18.121 914.869

249.647 857.866 127.213 1.234.726

221.226 877.703 142.727 1.241.656

266.728 899.715 151.931 1.318.374

353.385 923.829 83.159 1.360.373

484.914 940.972 71.082 1.496.968

735.894 369.926 80.570 1.186.390

893.120 273.355 93.475 1.259.950

913.677 200.436 116.007 1.230.120

1.373.009 182.041 71.752 1.626.802

1.240.500 290.597 88.441 1.619.538

1.397.350 329.713 83.310 1.810.373

1.450.184 343.035 105.590 1.898.809

1.567.552 346.130 100.892 2.014.574

1.743.677 322.758 109.439 2.175.874

1.575.083 339.541 89.427 2.004.051

1.621.468 305.847 181.033 2.108.348

1.609.041 306.263 204.281 2.119.585

1.612.240 450.561 189.866 2.252.667

1.652.685 475.804 177.995 2.306.484

1.684.614 393.720 251.477 2.329.811

1.673.246 509.047 271.588 2.453.881

1.350.476 422.300 286.800 2.059.576

1.512.131 316.660 265.404 2.094.195

1.196.409 365.313 630.264 2.191.986

759.094 305.332 423.843 1.488.269

738.893 284.782 470.258 1.493.933

790.573 234.288 665.143 1.690.004

813.538 310.949 600.980 1.725.467

967.160 297.685 490.509 1.755.354

839.028 370.476 422.414 1.631.918

1.028.681 383.892 639.071 2.051.645

1.193.653 423.421 624.668 2.241.742

38.065 0 0 38.065

1.208.365 431.485 626.962 2.266.812

47.900 0 0 47.900

1.232.542 431.952 632.521 2.297.015

1.253.455 432.012 641.752 2.327.219

1.271.670 432.168 653.584 2.357.422










Mn-C:Marni Filei/Tebu 03/Series

Keterangan / Note : DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

1. *) Angka Sementara / Preliminary

2. **) Angka Estimasi untuk gula hablur dengan model double exponential smoothing

3. h = gula hablur (white sugar)

b = gula merah (brown sugar)

PR : Perkebunan Rakyat PBN : Perkebunan Besar Negara PBS : Perkebunan Besar Swasta

Dari data di atas terlihat bahwa perkebunan tebu rakyat memiliki luas areal yang terbesar, hamper 10x lipat luasan perkebunan negara.

Dari tahun 1967-1980 hasil produksi perkebunan tebu di Indonesia selalu, mengalami penaikkan dan penurunan hingga mencapai pada tahun 1980 mencapai 1.259.950 ton. Pada 2 tahun berikutnya hasil produksi perkebunan tebu mengalami penurunan. Dan dari tahun 1983 sampai 2009 hasil produksi pada perkebunan tebu sangat stabil, sebab setiap tahunnya selalu mengalami kenaikkan. Dan kenaikkan terbesar terjadi pada tahun 2009 hasil produksinya sebesar 2.357.422 ton.

2.5 Tahun Kenaikkan dan Penurunan Hasil Perkebunan tebu di Indonesia

1. Hasil produksi perkebunan tebu dari tahun 1967-2009 mengalami kenaikkan tertinggi pada tahun 2009 sebesar 2.357.422 ton.

2. Hasil produksi perkebunan tebu dari tahun 1967-2009 mengalami penurunan tertinggi pada tahun 1968 sejumlah 752.100 ton.

2.6 Usaha Pemerintah dalam Memajukan dan Mengembangkan Produksi Gula

Kedepan Pemerintah juga telah mecanangkan rencana pengembangan ke provinsi lain yang cocok dan sesuai berdasarkan agroklimat dengan membuka peluang investasi pembangunan industri gula berbasis tebu yang terintegarasi di beberapa provinsi seperti Provinsi Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Barat. Adapun berdasarkan hasil survey P3GI potensi untuk pengembangan industri gula masih terbuka seperti di Provinsi Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah seluas + 800.000 Ha.


Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha industri gula berbasis tebu adalah

▪ Pengelolaan pada aspek on-farm yakni penerapan kaidah teknologi pertanaman yang

baik dan benar mulai dari persiapan lahan, pengolahan dan penanaman yang

mengikuti kaidah masa tanam optimal,

▪ Pemilihan dan komposisi varietas bibit unggul bermutu,

▪ Penggunaan, pemeliharaan serta tebang angkut muat (panen).

Dalam budidaya tanaman tebu bibit merupakan salah satu modal (investasi) yang menentukan jumlah batang dan pertumbuhan selanjutnya hingga menjadi tebu giling beserta potansi hasil gulanya. Oleh karena itu penggunaan bibit unggul bermutu merupakan faktor produksi yang mutlak harus dipenuhi.

Sehingga Pemerintah merasa perlu mengatur pengawasan peredaran bibit melalui sertifikasi yang merupakan satu proses pemberian sertifikat bibit setelah melalui pemeriksaan, pengujian dan pengawasan untuk persyaratan dapat disalurkan dan diedarkan. Sampai saat ini pusat Penelitian telah menghasilkan berbagai macam varietas unggul seperti PS851, PS862, PS863, PS864, PSBM901, PS921, Bululawang, PSCO902, PSJT941, Kidang Kencana, PS865, PS881, PS882 dan varietas Kentung yang merupakan varietas-varietas unggulan dengan kategori pengelompokan masak awal, masak tengah dan masak akhir sebagai salah satu penerapan manajemen pembibitan untuk menyelaraskan pelaksanaan tertib tanam dan panen.

Sejauh ini pengadaan bibit tebu dilakukan melalui tahapan penjenjangan kebun pembibitan, mulai dari Kebun Bibit Pokok (KBP), Kebun Bibit Nenek (KBN), Kebun Bibit Induk (KBI) hingga Kebun Bibit Datar (KBD) sebagai sumber bibit bagi

pertanaman atau Kebun Tebu Giling (KTG). Kedepan dalam mengantisipasi ketersediaan bibit telah dicanangkan pengadaan bibit melalui tahapan kultur jaringan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dalam jumlah maupun waktu.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) adalah satu anggota familia rumput-rumputan (Graminae) yang merupakan tanaman asli tropika basah, namun masih dapat tumubh baik dan berkembang di daerah subtropika, pada berbagai jenis tanah dari daratan rendah hingga ketinggian 1.400 m diatas permukaan laut (dpl).

Tanaman tebu telah dikenal sejak beberapa abad yang lalu oleh bangsa Persia, Cina, India dan kemudian menyusul bangsa Eropa yang memanfaatkan sebagai bahan pangan benilai tinggi yang dianggap sebagai emas putih, yang secara berangsur mulai bergeser kedudukan bahan pemanis alami seperti madu. catatan sejarah, sekitar tahun 400-an tanaman tebu telah ditemukan tumbuh di beberapa tempat di P. Jawa, P. Sumatera, namun baru pada abad XV tanaman tersebut diusahakan secara komersial oleh sebagian imigran Cina.

Diawali kedatangan bangsa Belanda di Indonesia tahun 1596 yang kemudian mendirian perusahaan dagang Vereeniging Oost Indische Compagnie (VOC) pada bulan Maret 1602, mulailah terbentuknya industri pergulaan, yang kemudian dipacu dengan semakin meningkatnya permintaan gula dari Eropa pada saat itu. Sejarah Indusri gula di Indonesia, khususnya di Jawa penuh dengan pasang surut. Pada dekade 1930-an industry gula di Indonesia mencapai puncaknya dengan produksi gula sebesar 3 juta ton dengan areal pertanaman seluas 200.000 ha yang terkonsentrasi di Jawa.

Pada masa itu terdapat + 179 pabrik gula yang mampu memproduksi 14,8 ton gula/ha. Usaha budidaya tebu di Indonesia dilakukan pada lahan sawah berpengairan dan tadah hujan serta pada lahan kering/tegalan dengan rasio 65% pada lahan tegalan dan 35% pada lahan sawah.

Sampai saat ini daerah/wilayah pengembangan tebu masih terfokus di Pulau Jawa yakni di Provinsi, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta dan Jawa Barat yang diusahakan di lahan sawah dan tegalan. Sedangkan usahatani tebu pada lahan tegalan pengembangannya diarahkan ke Luar Jawa seperti di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan dan Gorontalo.

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya bagi kita semua. Shalawat serta salam tidak lupa kami kirimkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT. Kami dapat menyelesaikan makalah Perkebunan Tebu dengan Pembimbing Bapak Sabar Pamungkas, S.Si

Dalam kesempatan yang baik ini kami ucapkan terima kasih pada Bapak Sabar Pamungkas, S.Si yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini. Selanjutnya, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang dapat menjadikan makalah ini menjadi lebih baik.

Akhir kata kami ucapkan terima kasih banyak. Semoga makalah ini dapt bermanfaat bagi kita semua. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Palembang, April 2010

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii

DAFTAR ISI ..................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang....................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................... 5

2.1 Pengertian Tebu..................................................................................................... 5

2.2 Pertumbuhan dan Pemasaran Perkebunan Karet..................................................... 7

2.2.1 Pertumbuhan di Indonesia .......................................................................... 7

2.2.2 Pemasaran Tebu......................................................................................... 9

2.3 Pengelolah Hasil Perkebunan Tebu ........................................................................ 11

2.4 Data Analisis ......................................................................................................... 12

2.5 Tahun Kenaikan dan Penurunan Hasil Perkebunan Tebu ......................................... 13

2.6 Usaha Pemerintah Memajukan dan Mengembangkan Produksi Gula ....................... 13

BAB III PENUTUP............................................................................................................ 14

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

www.deptan.go.id

www.google.com ( Pertumbuhan dan Pemasaran Produksi Tebu )

ANALISIS PERKEBUNAN TEBU DI INDONESIA

DI SUSUN OLEH :

YOSHINOKI KRISUWA 2007 133 215

KHOLIDIN 2007 133 210

YUNITA 2007 133

HENI SUARLINA 2007 133

KELAS 6.E

DOSEN PEMBIMBING: Sabar Pamungkas, S.Si

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG

2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar