Rabu, 07 April 2010

DATA PERKEBUNAN TEH DI INDONESIA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Teh merupakan salah satu tanaman industri yang sangat penting. Dari tanaman ini di ambil daunnya yang masih muda. Kemudian diolah dan digunakan untuk bahan minuman yang lezat. Disamping itu, teh juga diekspor dan menghasilkan devisa untuk negara. Teh (Camellia sinensis) menjadi salah satu komoditi andalan

Provinsi Jawa Barat yang dikenal masyarakat sejak zaman Hindia Belanda

(tahun 1860). Melalui sejarah yang panjang, perkebunan teh dibudidayakan

dan dikelola oleh perusahaan negara, perusahaan swasta, maupun

perkebunan rakyat. Sesudah abad ke 18, teh dikenalkan diseluruh dunia. Mula-mula hanya didaratan Cina dan Indi. Pada abad ke 9 teh mulai ditanam di Jepang.

Menanam teh tidak terlalu sulit. Ia dapat hidup dengan baik di tempat-tempat pada ketinggian 250-1200 m di atas permukaan laut. Curah hujan yang baik bagi tanaman teh sekitar 2000-2500 mm setahun, dan suhu udara antara 14-200C. Suhu udara yang terlalu dingin dapat menyebabkan terjadinya pembekuan dan tanaman teh menjadi rusak.

Dilihat dari kelas sosial, masyarakat beranggapan bahwa minum teh

merupakan minuman kelas rendah, sedangkan minuman susu atau

minuman lainnya dipersepsikan sebagai minuman kelas sosial tingkat

menengah dan atas. Padahal di negara lain, masyarakat yang mempunyai

pendapatan tinggi menganggap sebagai minuman terpenting dalam

pergaulan, karena minum teh telah dianggap sebagai bagian dari life style

(gaya hidup). Hal ini didukung oleh pendapat Ruslina (2003:84-85), tradisi

minum teh telah berkembang di Indonesia, tetapi penghargaan terhadap teh

berkualitas masih rendah, dibandingkan dengan masyarakat di Taiwan yang

meyakini minum teh identik dengan kesehatan.

Fakta ini dibuktikan dengan rata-rata konsumsi susu per kapita

masyarakat Indonesia lebih tinggi yaitu 6,50 kg per tahun, dibandingkan

konsumsi susu negara China 2,96 kg, Philipina 0,25 kg, Malaysia 3,82 kg,

dan Thailand 2,04 kg.

Selain itu, rendahnya tingkat konsumsi teh juga dipengaruhi oleh

semakin gencarnya promosi dari produk saingan seperti kopi, susu, aqua dan

minuman ringan lainnya. Kondisi ini didukung oleh hasil penelitian Dadang

Surjadi, dkk., (2002:92-93) bahwa reaksi konsumen dalam merespons teh

sesuai iklan televisi dipengaruhi oleh pendapatan keluarga, daya substitusi teh, keluarga, dan kerabat yang merupakan sumber referensi bagi

konsumen.

Penanaman teh secara besar-besaran di Indonesia sudah dimulai sejak abad ke 19. Waktu itu pemerintah Belanda menganjurkan perusahaan-perusahaan swasta dan rakyat untuk menaman teh. Usaha penanaman itu berkelanjutan sampai sekarang. Hasil daun teh rakyat dapat dijual ke pabrik-pabrik teh yang terdekat atau diolah sendiri. Di Indonesia teh ditanam di beberapa daerah. Yang paling besar di Jawa Barat, terutama di Bogor dan Pariangan. Dilereng gunung-gunung: salak, gede, tangkupan perahu, cikurai, dan dataran tinggi pagelangan. Di Jawa Tengah di usahakan disekitar gunung-gunung: selamet, dieng, sindoro, dan sumbing. Di daerah Jawa Timur dilereng-lereng: semeru, kawi, arjuna, wilis, dan raung. Dipulau sumatra, terdapat disekitar pematang siantar dan lereng gunung kerinci. Sebelum perang dunia ke II, luas tanaman teh diseruh Indonesia sekitar 213.388 ha. Seluas 138.388 ha diusakan oleh perushaan perkebunan, 75.000 ha di usahakan oleh rakyat. Perkebunan teh di Jawa Barat merupakan yang terbesar di Indonesia. Luas areal perkebunan mencapai 109.900 hektar atau 70 persen dari luas areal perkebunan teh di Indonesia. Tiap tahun produksi teh dari provinsi ini menyumbang sekitar 80 persen terhadap produksi teh nasional. Areal perkebunan teh tersebar di Kabupaten Bandung, Sukabumi, Cianjur, Bogor, Purwakarta, Subang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Majalengka. Kabupaten Bandung adalah daerah penghasil teh utama di Jabar. Sekitar 42 persen produksi teh Jabar dihasilkan di kabupaten ini. Areal tanaman teh tersebar di Kecamatan Pangalengan, Ciwidey, Cipeundeuy, Cikalong Wetan, dan Pasirjambu. Besarnya kontribusi teh kabupaten ini tak terlepas dari penanaman teh yang berkembang di wilayah pegunungan Bandung sejak tahun 1863. Tahun 1930, di Pulau Jawa terdapat 289 perkebunan teh, sebanyak 249 atau 87 persen di antaranya terdapat di Tatar Sunda. Hingga kini perkebunan teh tersebut masih berproduksi dan sebagian besar dikelola oleh PTP Nusantara VIII. (ERI/LITBANG KOMPAS)

Pekerjaan pengelolahan teh yang dilakukan dipabrik meliputi pelayuan, pemeraman, pengerinagan, sortasi, dan pengepakan.

Pelayuan daun teh ditunjukan untuk menurunkan kadar airnya agar mudah digulung. Pemeraman dilakukan dalam keadaan ruangan yang lembab suhu udaranya 21-260C. Pemeraman dilakukan 0,5-3 jam, tergantung dari halus dan kasarnya daun. Proses pengeringan dalam pabrik dilakukan dengan mesin penggering. Suhu penggeringan mula-mula 95-1000C. Kemudian diturunkan sedikit demi sedikit hingga 50-650C. Sesudah teh kering dilakukan sortasi, maksudnya untuk memperoleh tah yang sejenis.

Perbanyakan tanaman teh dapat dilakukan dengan pembiakan generatif dan vegetatif. Pembiakan generatif dilakukan dengan benih, Sedangkan pembiakan vegetatif dengan beberapa cara, antara lain Okulasi (tempelan), enten (sambungan), stek dan cangkok.

Kulit benih teh sangat keras. Oleh sebab itu, diperlukan secara khusus. Benih dihamparkan dan disimpan diantara lembar karung goni yang telah dibasahi dengan air panas selama beberapa hari. Sesudah itu, benih dijemur selama 20 – 30 menit.

Cara di atas diulangi 1 – 2 kali, hingga kulit benih pecah atau retak. Benih yang demikian kemudian ditanam dipesemaian. Penyemaian sebaliknya dilakukan menjelang musim hujan sekitar bulan Oktober.

1.2 Rumusan masalah.

Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi permasalahan disini adalah “Bagaimana persebaran dan hasil produksi perkebunan the di Indonesia?”

BAB II

PEMBAHASAN

DATA LUAS AREAL DAN PRODUKSI PERKEBUNAN SELURUH INDONESIA MENURUT PENGUSAHAAN Area and Production by Category of Producer

JENIS TANAMAN / Commodity : T E H / Tea

TAHUN / Year : 1970-2009

Tahun/

Year

LUAS AREAL /Area

(Ha)


PRODUKSI /Production

(Ton)

P R /

Smallholders

P B N /

Government

P B S /

Private

Jumlah/

Total

P R /

Smallholders

P B N /

Government

P B S /

Private

Jumlah/

Total

1

2

3

4

5

6

7

8

9


1970

1971

1972

1973

1974

1975

1976

1977

1978

1979

1980

1981

1982

1983

1984

1985

1986

1987

1988

1989

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006*)

2007**)

2008**)

2009**)

51.721 39.887 24.474 116.082

36.230 39.850 25.994 102.074

34.612 33.603 30.771 98.986

33.339 41.227 26.551 101.117

34.049 41.401 26.056 101.506

34.249 41.401 24.880 100.530

35.396 41.100 24.764 101.260

35.181 38.721 21.468 95.370

37.097 39.519 25.386 102.002

39.829 40.807 27.362 107.998

41.329 40.442 30.929 112.700

42.288 40.939 23.310 106.537

45.414 41.143 24.798 111.355

45.944 42.624 23.128 111.696

50.859 45.605 21.582 118.046

52.652 48.005 21.883 122.540

54.374 48.606 23.313 126.293

50.252 47.872 22.392 120.516

50.770 47.567 26.908 125.245

52.152 49.543 27.680 129.375

51.238 49.495 28.347 129.080

51.468 51.662 30.575 133.705

53.040 51.322 33.145 137.507

55.678 51.296 35.609 142.583

57.517 50.507 37.500 145.524

61.202 49.390 41.839 152.431

65.372 43.282 33.828 142.482

64.498 43.240 34.484 142.222

65.841 50.446 40.752 157.039

65.272 49.157 42.410 156.839

67.100 44.263 42.312 153.675

67.580 44.554 38.738 150.872

66.289 44.608 39.810 150.707

64.742 41.988 36.874 143.604

61.902 44.768 35.878 142.548

60.771 44.066 34.284 139.121

59.921 44.488 33.760 138.169

58.800 43.653 33.126 135.579

57.677 42.820 32.494 132.991

56.556 41.987 31.862 130.406

20.563 34.326 9.277 64.166

14.511 36.527 9.954 60.992

11.947 37.442 10.535 59.924

14.263 43.252 10.069 67.584

13.833 40.148 11.036 65.017

14.096 46.221 9.772 70.089

13.280 49.449 11.036 73.765

17.303 51.391 14.234 82.928

17.424 58.977 15.709 92.110

19.069 61.240 16.908 97.217

20.489 68.184 17.502 106.175

23.769 71.886 13.480 109.135

16.511 60.648 15.573 92.732

22.858 70.360 17.099 110.317

24.290 84.475 17.678 126.443

30.056 80.149 17.259 127.464

31.124 79.314 19.043 129.481

25.394 79.801 20.901 126.096

25.564 84.772 23.464 133.800

25.590 90.368 26.416 142.374

31.381 95.346 29.192 155.919

27.898 84.035 27.587 139.520

31.834 94.023 27.844 153.701

36.631 95.126 33.237 164.994

30.294 78.383 30.545 139.222

32.593 87.432 33.988 154.013

34.256 96.624 38.537 169.417

32.619 88.259 32.770 153.648

34.137 91.076 41.612 166.825

34.561 86.099 40.343 161.003

39.466 84.132 38.989 162.587

40.160 86.207 40.500 166.867

44.773 80.426 39.995 165.194

47.079 82.082 40.660 169.821

40.200 89.303 36.448 165.951

37.746 89.959 38.386 166.091

37.800 91.649 38.432 167.881

37.800 91.649 38.432 167.881

37.800 91.649 38.432 167.881

37.800 91.649 38.432 167.881

Keterangan / Note : DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

*) Sementara / Preliminary Directorate General of Estate

* *) Data Estimasi dengan model Double Exponential smoothing

HASIL ANALISIS

Industri teh saat ini sedang mengahadapi berbagai masalah, antara lain

terjadinya over production nasional maupun dunia dan di sisi lain tingkat

konsumsi teh masyarakat masih tergolong rendah. Oleh karena itu, perlu

adanya upaya untuk mentransformasi keunggulan komparatif (comparative

advantages) menjadi keunggulan kompetitif (competitive advantages),

dengan mengembangkan subsistem agribisnis hulu secara sinergi dengan

pengembangan subsistem agribisnis hilir dan membangun jaringan pemasaran domestik maupun internasional, yang digerakkan oleh kekuatan

inovasi (innovation driven) (Tampubolon, 2002:20),

Pembangunan agribisnis perkebunan yang telah berganti arah dari

penekanan produksi kepada permintaan pasar atau konsumen yang

merupakan konsekuensi logis dari terjadinya globalisasi perdagangan yang menimbulkan dampak hyper competition di antara negara-negara produsen teh.

Pembangunan perkebunan dengan pendekatan sistem agribisnis

yang berorientasi pasar pada dasarnya bertitik tolak pada pasar sebagai

penggerak utama pengembangannya yaitu mempertemukan kebutuhan

pelanggan atau permintaan pasar dengan pasokan yang tersedia, baik pasar

lokal (domestik) maupun ekspor.

Tabel 1.1.

Perkembangan Produksi the di Indonesia Tahun 1994-2003

Tahun

Produksi

% (naik turun)

1994

128.289

-

1995

143.675

11,99

1996

166.256

15,71

1997

153.619

-7,60

1998

166.825

8,59

1999

161.003

-3,48

2000

157.371

-2,25

2001

172.897

9,86

2002

172.792

-0.06

2003

168.000

-2,77

Sumber : ITC (International Tea Committee),

Tahun2004

Tabel 1.1 menunjukkan, perkembangan produksi mengalami fluktuasi

selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2003. Dari total produksi teh Indonesia tersebut, kontribusi terbesar

(66,99 persen) berasal dari Provinsi Jawa Barat dan sisanya dari Sumatera.

Kontribusi teh tersebut dihasilkan oleh perkebunan teh rakyat, perkebunan

besar swasta, dan perkebunan negara, seperti disajikan pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2. Luas Areal dan Produksi Tanaman teh Menurut

Kepemilikan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2003.

PERKEBUNAN

LUAS AREA

(Ha)

PRODUKSI

(ton)

PRUDUKTIFITAS LAHAN

(ton/ha)

Rakyat

57.816,66

33.790,52

0,58

Negara

25.005,10

29.197,12

1,17

Swasta

26.332,10

49.565,44

1,88

Total

109.154,18

112.553,08

-

Sumber : BPS Jawa Barat Dalam Angka,Tahun 2004

Hasil produksi yang dicapai, selain untuk kebutuhan dalam negeri

juga diekspor ke berbagai negara. Kondisi pasar ekspor yang selama ini

menjadi target pasar utama sangat sulit ditingkatkan, karena posisi

Indonesia hanya sebagai pengikut pasar (market follower) dengan pangsa

pasar hanya 6 persen.

Hasil ekspor terbesar diraih oleh Sri Lanka 21 persen, disusul oleh

Kenya 19 persen, China 19 persen, India 12 persen, dan sisanya negara

lainnya seperti Other Africa 5 persen, Argentina 4 persen, Vietnam 4 persen, Malawi 3 persen, serta Uganda 2 persen (ITC, 2004:43). Untuk melihat

perkembangan hasil ekspor impor teh Indonesia disajikan pada Tabel 1.3.

Tabel 1.3.

Perkembangan Hasil Penjualan Ekspor Impor Teh Indonesia Tahun 1994-2002 (Ton)

TAHUN

VOLUME EKSPORT

VOLUME IMPORT

1994

84.916

100

1995

79.227

50

1996

101.532

50

1997

66.843

2.300

1998

67.219

2.300

1999

97.847

1.600

2000

105.581

2.200

2001

99.721

3.800

2002

100.185

6.000

Sumber ITC (International Tea Committee), Tahun 2004

Tabel 1.3 menunjukkan, volume ekspor cenderung menurun dari tahun

ke tahun. Kondisi ini disebabkan oleh tingkat kualitas yang relatif rendah

dan situasi politik internasional. Hal ini sesuai dengan pendapat Dede

Suganda dan Warli Sukarja1), bahwa pemasaran teh ke Timur Tengah (Arab

Saudi, Irak, Libanon, Yordania, Turki dan Iran) mengalami hambatan yang

disebabkan perang Irak. Inggris dan Amerika Serikat yang diakibatkan oleh perbedaan politik dengan

pemerintah Indonesia dalam perang Irak.

Di sisi lain, walaupun negara kita sebagai pengekspor teh, namun

juga sebagai pengimpor teh yang cenderung meningkat dari tahun ke

tahun. Ironisnya ekspor yang dilakukan pada umumnya masih dalam

bentuk curah (lose tea) yang dikemas dengan kertas khusus berbagai ukuran

yaitu 40 kg – 60 kg. Impor teh yang masuk telah memiliki nilai tambah

dengan kemasan yang lebih baik dan harga yang ditawarkan jauh lebih

mahal.

Pasar bebas secara efektif akan diberlakukan tahun 2010. Kondisi ini

akan berdampak positif karena memiliki pasar yang lebih luas. Akan tetapi,

jika perusahaan tidak siap, maka dampak negatifnya akan menjadi target

pasar bagi negara produsen teh lainnya.

Salah satu upaya untuk mengatasi over production, perusahaan

negara maupun perusahaan swasta, hendaknya berusaha meningkatkan

konsumsi dalam negeri, karena potensi pasar dalam negeri cukup besar

dengan melihat trend populasi penduduk Indonesia. Tabel 1.4 menyajikan

perkembangan konsumsi teh dalam negeri.

Tabel 1.4. Perkembangan Konsumsi teh Per Kapita

dalam Negeri Tahun 1997-2003.

TAHUN

KONSUMSI PERKAPITA/TAHUN

(gram)

1997

250

1998

310

1999

320

2000

310

2001

300

2002

310

2003

150

Sumber : ITC (International Tea Committee ),

Tahun 2004

Banyak faktor yang sangat mempengaruhi rendahnya konsumsi per

kapita nasional tersebut antara lain; faktor internal konsumen seperti

budaya, kelas sosial, karakteristik individu, dan faktor psikologis. Di samping

itu, juga dipengaruhi oleh kinerja bauran pemasaran seperti produk, harga,

saluran distribusi, dan promosi serta produk substitusi (air mineral, susu, kopi

dan coklat).

Budaya konsumen merupakan penentu keinginan dan perilaku yang

paling mendasar. Budaya minum teh ditemukan di masyarakat China dan

Jepang yang menjadikan teh sebagai minuman sehat (tradisi), sedangkan di

Eropa pada umumnya minum teh merupakan minuman nasional.

Di Jawa Barat minum teh merupakan budaya, karena setiap restoran

dan rumah makan serta warung makan menyajikan minuman teh tanpa gula

sebagai minuman pengganti air putih. Walaupun, budaya minum teh telah

menjadi kebiasaan masyarakat pada umumnya dan Jawa Barat khususnya,

namun relatif belum diminum secara teratur.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dsimpulkan bahwa pengaruh iklan

yang ditayangkan melalui media televisi sangat dimungkinkan karena di

Indonesia pada umumnya dan Jawa Barat khususnya, televisi bukan lagi

barang mewah bahkan televisi sudah dianggap kebutuhan primer bagi

sebagian besar rumah tangga.

Dilihat dari karaktersitk individu, secara umum menunjukkan adanya

kecenderungan bahwa minuman teh hanya khusus orang dewasa saja,

padahal untuk konsumsi anak-anak dan manusia usia lanjut jauh lebih baik

karena teh dapat memenuhi gizi dan kesehatan. Jumlah konsumsi teh yang

dibeli, erat hubungannya dengan jumlah anggota keluarga, sehingga

semakin besar jumlah anggota keluarga seharusnya jumlah yang dibelipun

akan meningkat.

Selanjutnya, faktor psikologis konsumen yang menunjukkan bahwa

kecenderungan seseorang mengkonsumsi minuman teh masih terbatas

pada motivasi untuk menghilangkan rasa haus (pelepas dahaga) dan relatif belum mengetahui secara luas manfaat dari teh. Hal ini sesuai dengan

pendapat Nana Subarna, dkk., (2002:5) mengemukakan, bahwa persepsi

konsumen dalam mengkonsumsi minuman teh tercermin dari tujuan dan

anggapan konsumen bahwa produk teh merupakan minuman yang memberi

manfaat kesehatan, enak, menyegarkan, pelepas dahaga, minuman murah,

dan mudah didapat.

Selain faktor di atas, kontribusi yang cukup besar dalam

mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian komoditas teh dalam

rumah tangga, tidak terlepas dari faktor produsen teh, terutama teh merek

Sariwangi dan teh Sosro yang begitu gencar melakukan strategi bauran pemasran dengan tujuan mempengaruhi konsumen.

Strategi bauran pemasaran yang dilakukan, akan dipersepsikan oleh

konsumen melalui kinerja bauran pemasaran yang terdiri dari produk, seperti

kualitas yang ditawarkan (rasa, aroma, warna air seduhan), merek, dan

kemasan produk dengan harga yang relatif murah dan bersaing antar

produsen teh.

Lemahnya kebijakan saluran distribusi pemasaran yang dilakukan oeh

produsen teh, terlihat dari adanya beberapa merek produk yang masih sulit

diperoleh di pasar, kecuali merek Sariwangi yang memiliki saluran distribusi

yang sangat luas dan dengan berbagai jenis kemasan, sehingga

mempermudah konsumen rumah tangga untuk membelinya. Demikian

halnya, pada strategi promosi yang dilakukan produsen belum begitu gencar, kecuali produsen Sariwangi dan teh Sosro yang melakukan strategi bauran

promosi secara intensif, karena produsen tersebut menyadari bahwa

walaupun produk yang ditawarkan mempunyai kualitas baik, harga yang

ditawarkan murah, dan mempunyai saluran distribusi yang luas, namun tidak

melakukan promosi melalui media yang efektif, maka produk tersebut

kemungkinan akan mengalami kegagalan pasar.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa apabila

perusahaan teh mencari peluang dan potensi pemasaran lokal, seharusnya

mengintensifkan promosi, seperti produk bukan teh yang begitu gencar

melakukan promosi. Namun, konsekuensi yang harus ditanggung oleh

perusahaan teh adalah biaya promosinya perlu ditingkatkan.

Salah satu upaya pemerintah Provinsi Jawa Barat meningkatkan

Konsumsi teh per kapita nasional, yaitu melakukan kerja sama sejak tahun

2003 dengan perusahaan dan instansi terkait untuk melaksanakan festival teh secara rutin setiap tahun dengan tujuan untuk memotivasi produsen dan

konsumen.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Di Indonesia teh ditanam di beberapa daerah. Yang paling besar di Jawa Barat, terutama di Bogor dan Pariangan. Dilereng gunung-gunung: salak, gede, tangkupan perahu, cikurai, dan dataran tinggi pagelangan. Di Jawa Tengah di usahakan disekitar gunung-gunung: selamet, dieng, sindoro, dan sumbing. Di daerah Jawa Timur dilereng-lereng: semeru, kawi, arjuna, wilis, dan raung. Dipulau sumatra, terdapat disekitar pematang siantar dan lereng gunung kerinci. Sebelum perang dunia ke II, luas tanaman teh diseruh Indonesia sekitar 213.388 ha. Seluas 138.388 ha diusakan oleh perushaan perkebunan, 75.000 ha di usahakan oleh rakyat. Perkebunan teh di Jawa Barat merupakan yang terbesar di Indonesia.

Perkembangan produksi mengalami fluktuasi,selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2003. Dari total produksi teh Indonesia tersebut, kontribusi terbesarm(66,99 persen) berasal dari Provinsi Jawa Barat dan sisanya dari Sumatera. Disamping itu ekspor cenderung menurun dari tahun

ke tahun. Kondisi ini disebabkan oleh tingkat kualitas yang relatif rendah

dan situasi politik internasional. Hal ini sesuai dengan pendapat Dede

Suganda dan Warli Sukarja1), bahwa pemasaran teh ke Timur Tengah (Arab

Saudi, Irak, Libanon, Yordania, Turki dan Iran) mengalami hambatan yang

disebabkan perang Irak. Inggris dan Amerika Serikat yang diakibatkan oleh perbedaan politik dengan pemerintah Indonesia dalam perang Irak. Di sisi lain, walaupun negara kita sebagai pengekspor teh, namun juga sebagai pengimpor teh yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Ironisnya ekspor yang dilakukan pada umumnya masih dalam bentuk curah (lose tea) yang dikemas dengan kertas khusus berbagai ukuran yaitu 40 kg – 60 kg. Impor teh yang masuk telah memiliki nilai tambah dengan kemasan yang lebih baik dan harga yang ditawarkan jauh lebih

mahal.

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsoe’oed Sadjad. Empat Belas Tanaman Perkebunan untuk Agro-Industri, Penerbit Balai Pustaka, maret 1992.

www.deptan.go.id

www.google.com ( Pertumbuhan dan Pemasaran Produksi Tebu )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar